antologi.dunia

Selasa, 11 Januari 2011

[Sahabat] Tujuh Wasiat Imam Syafie


Wasiat Imam Syafie tentang Bersahabat

 Cuplikan daripada Pembina dan Devianart-indrante


Perihal Yang Pertama: Sahabat Yang Baik

Aku mencintai sahabat-sahabatku dengan segenap jiwa ragaku, seakan-akan aku mencintai sanak saudaraku. Sahabat yang baik adalah yang seiring sejalan denganku dan yang menjaga nama baikku ketika aku hidup ataupun setelah aku mati.

Aku selalu berharap mendapatkan sahabat sejati yang tidak luntur baik dalam keadaan suka ataupun duka. Jika itu aku dapatkan, aku berjanji akan selalu setia padanya.

Kuhulurkan tangan kepada sahabat-sahabatku untuk perkenalan, kerana aku akan merasa senang. Semakin banyak  aku perolehi sahabat, aku semakin percaya diri.
 

Perihal Yang Kedua: Mencari Sahabat Di Waktu Susah

Belum pernah ketemukan di dunia ini seorang sahabat yang setia dalam duka. Padahal hidupku sentiasa berputar-putar antara suka dan duka.

Kalau duka melanda, aku sering bertanya... siapakah yang sudi menjadi sahabatku?

Dikala aku senang, sudah biasa bahawa orang akan iri hati. Namun bila giliran aku susah, mereka pun bertepuk tangan.
 

Perihal Yang Ketiga: Pasang Surut Persahabatan

Aku dapat bergaul secara bebas dengan orang lain ketika nasibku sedang baik. Namun, ketika musibah menimpaku, kudapati mereka tidak ubahnya seperti roda zaman yang tidak mahu bersahabat dengan keadaan.

Jika aku menjauhkan diri daripada mereka, mereka  mencemuhku, dan jika aku sakit, tidak seorang pun yang menjengukku.

jika hidupku berlumur kebahagian, ramai orang iri hati, jika hidupku berselimut derita mereka bersorak sorai.


Perihal Yang Keempat: Mengasingkan Diri 
Apabila tidak kutemukan sahabat-sahabat yang bertakwa, lebih baik aku hidup menyendiri daripada aku bergaul dengan orang-orang jahat.

Duduk bersendirian untuk beribadah dengan tenang adalah lebih menyenangkanku daripada bersahabat dengan kawan yang mesti ku waspadai.


Perihal Yang Kelima: Sukarnya Mencari Sahabat Sejati

Tenangkanlah engkau dalam menghadapi perjalanan zaman ini. Dan bersikaplah seperti seorang paderi dalam menghadapi manusia. Cucilah kedua tanganmu dari zaman tersebut dan dari manusianya. Peliharalah cintamu terhadap mereka, maka kelak kamu akan memperolehi kebaikannya.

Sepanjang usiaku yang semakin tua, belum pernah aku temukan di dunia ini sahabat yang sejati. Kutinggalkan orang-orang yang bodoh kerana kejelekannya dan kujauhi orang-orang mulia kerana kebaikannya sedikit.



Perihal Yang Keenam: Sahabat Sejati Di Waktu Susah

Kawan yang tidak dapat dimanfaatkan ketika susah lebih mendekati musuh daripda kawan. Tiada yang abadi dan tidak ada kawan yang sejati kecuali yang menolong ketika susah.

Sepanjang hidupku aku berjuang keras mencari sahabat sejati sehinggalah pencarianku melenakanku. Kukunjungi seribu negara, namun tak satu negara pun yang penduduknya berhati manusia.
 

Perihal Yang Ketujuh: Menjaga Nama Baik

Jika seseorang tidak dapat menjaga nama baiknya kecuali dalam keadaan terpaksa, maka tinggalkanlah dia dan jangan bersikap belas kasihan kepadanya.

Ramai orang lain yang dapat menjadi penggantinya. Berpisah dengannya bererti istirehat. Dalam hati masih ada kesabaran buat sang kekasih, meskipun memerlukan daya usaha yang keras.

Tidak semua orang yang engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadangkala dibalas dengan sikap tidak sopan. Jika cinta suci tidak datang dari tabiatnya, maka tidak ada gunanya cinta yang dibuat-buat.

Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat kerana dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai. Dia akan memungkiri jalinan cinta yang telah dibentuk dan akan menampakkan hal-hal yang kelmarin menjadi rahsia.

Selamat tinggal dunia jika atasnya tidak lagi ada sahabat yang jujur dan menepati janji.


Ahad, 7 November 2010

Memoir Anak Desa - Anak Muda Merantau Jauh




Bila anak muda merantau jauh,
Yang dibawa olehnya adalah semangat,
Mencari pengalaman baru,
Menimba ilmu,
Sebagai bekalan usia mendatang,
Mematangkan diri,
Untuk memejal bahu agar dapat mengalas tangunggjawab yang semakin besar,

Anak muda yang merantau,
Memegang janji bonda dan ayahanda.

Kehidupan yang kian tua
Anak muda takkan selamanya muda.


Anak desa
Dalam perjalanan jauh merantau ke tempat orang
-Lebuhraya Utara Selatan-
29 Zulkaedah 1431 - 6 Oktober 2010
4.45 A.M

Sabtu, 30 Oktober 2010

Memoir Anak Desa – Rindu Akan Boncengan Sepeda Tua



Rindu Akan Boncengan Sepeda Tua



 Sepeda tua... 



Sepeda tua, 
Tampaknya padaku mengembalikan memori indah silam,
Saat boncengan atas karia,
Dan embah yang mengayuh pedal dengan perlahan.

Bak kata Imam Ghazali,
Benda yang paling jauh adalah...
            ...masa lalu...
Takkan mampu digapai kembali dek tangan,
Walau mata darah menjadi mas hantaran,
Lalu kenangan indah itu hanya mampu ditayang kembali di atas layar hati,
Diprojektori oleh memori yang menjadi episod-episod yang betah bertahan dalam keributan minda.
Ada yang hilang, ada yang kabur, bercerai-pecah,
Namun dicuba kembali menyelongkar ke lubuk dalam , dicuba-cuba gigih mencantum kembali kepingan-kepingan kecil dan berselerak menjadi satu catan indah...
            ...apabila dikenang kembali...
            ...air mata pastikan menitis...

Sepeda tua yang menjadi sejarah,
Diingat-ingat kembali, tahunan yang amat sudah,
Boncenganku atas karianya yang lebar,
Dan embah yang cermat mengayuh dan berhati-hati,
Dengan kaki tuanya yang masih lagi kuat dan kejap,
Mengemudi hendal sepeda tua dengan tangannya yang ketuaan, terlihat urat kehidupan,
Dengan mata yang masih tajam memerhati jalan,
            Wanita besi dari tahun penjajah...
Embah tetap masih utuh...

Sepeda tua itu,
Masihku ingat dudukku atasnya karia,
Saat embah mengayuh dengan cermat,
Kupeluk pinggangnya dari belakang,
Kuletak wajah di tubuh belakang badannya...
            ...kusandar wajahku mengiring ke kanan...
Terasa masih kehangatan belakang badannya,
Yang menanggung beban sekian dulu,
            Menjadikan embah seorang yang tabah,

Aku rindu saat itu...

Saat bertembung babi hutan,
Saat termasuk semak rimbun di tepi jalan,
Saat jatuh menggelongsor ke bawah ban,
Atau mencari keladi di ladang kelapa sawit,
Embah tetap dengan cermat mengayuh sepeda tuanya,
Dan aku menjadi teman sejati di atas karia belakang,
Memegang guni atau bekalan makan ,
Memegang parang atau bungkusan plastik,
Atau memaut erat pinggangnya embah...
Pengemudian embah untuk cucunya,
Cermat dan teguh,
Walau bertembung dengan babi hutan melintas di tengah jalan,
Tidak goyah atau melatah,
Tetap utuh demi cucunya,

Sayang embah masih lagi hangat terasa...

Hari ini,
Sepeda tua itu telah menjadi sejarah,
Dan embah sudah tidak larat,
Untuk mengayuh dengan kakinya,
Sudah gontai, kakinya sudah sakit-sakit, tangannya sudah tidak lalu,
Namun embah masih lagi kuat,
Embah masih lagi embah yang lalu.

Sepeda tua...
Mungkin kini aku tidak lagi duduk di karia,
Tapi aku pula akan mengemudi hendal, memegang...
            ...dan embah pula yang akan membonceng...

Sepeda tua...
Aku rindu akan boncengan atas karianya,
Bersama embah...


Saat indah...

Anak desa

4.00 A.M.
22 Zulkaedah 1431 - 30 Oktober 2010

*sepeda-basikal
*embah-nenek

Rabu, 27 Oktober 2010

[Puisi] Belasungkawa Untuk Yang Hidup (I) dan (II) [Ulang Tayang Kedepan]


Puisi ini saya dedikasikan untuk sahabat-sahabat yang kehilangan insan yang tersayang.
Moga roh mereka dicucuri rahmat dan dimasukkan ke dalam golongan yang beriman.

Al-Fatihah buat ayahanda tercinta bagi Muhammad Zaid Bin Salman
(30 Julai 2010)

Al-Fatihah buat kekanda tercinta Ahmad Hafizi
(minggu ke-3 bulan Oktober 2010, maaf temanmu ini tidak mengetahui tarikh sebenar)

Al-Fatihah buat pamanku yang tercinta
Jaafar bin Mohamad Razi
(2002)

Al-Fatihah buat ayahanda sang wirawati Miss_purplish89
(2 Februari 1995)

Al-Fatihah buat sekalian saudara-saudaraku seakidah yang telah pergi menemui Tuhan..

Salamku padamu wahai yang pergi, moga kau menemui Tuhan dalam kesucian dan kesejahteraan.

Belasungkawa Untuk Yang Hidup (I)

(i)
Takziah,
Untuk yang hidup,
Asbab,
Hidup itu insyaAllah,
Mati itu pasti.


(ii)
Takziah,
Pada kehidupan,
Sebab,
Allah masih hendak menguji,
Amal kita masih tak banyak.


(iii)
Takziah,
Pada sesiapa yang hidup,
Yang pergi itu sudah pasti,
Ada hikmah untuk pergi,
Bukti Tuhan itu menyayangi.


(iv)
Takziah,
Kepada yang masih hidup,
Yang hidup pasti akan pergi,
Yang pergi pula bukan sebarangan pergi,
Takkan dia pergi tanpa kasih ya Rabbi.


(v)
Takziah,
Pada yang hidup,
Kita tak tentu lagi,
Bila waktu berjumpa Illahi,
Apakah kita sudah sedia untuk pergi?



Belasungkawa Untuk Yang Hidup (II)

Yang pergi itu adalah bukti,
Kasih Illahi pada dirinya,
Tanpa dia pergi membawa bekal,
Amal mulia dan juga CINTA Illahi...

Dia pergi bersama CINTA,
Mengiringinya pergi adalah KASIH,
Allah takkan biarkan hambanya sendirian,
Bukankah Allah itu Maha PENGASIH.

Belasungkawa untukmu yang masih hidup,
Dan salam kepada yang pergi,
Tuhan itu menjadi saksi,
Pada hambanya untuk ke Firdausi.

Bersangka baiklah pada Tuhanmu nescaya Dia akan bersangka baik pada kamu.
 
Jangan bersedih sendirian duhai sobatku,
Jika kau bersedih bawalah aku turut dalam tangisanmu,
Kamu adalah aku, 
Dan aku adalah kamu,
Jangan bersedih sendirian,
Bukankah kau adalah saudaraku,
Jika tiada orang orang sudi bersamamu saat kau bersedih,
Aku sudi bersamamu... Aku sudi bersamamu duhai sahabatku...

*****

Seorang sahabat...
Di bumi Tuhan....
31 Julai 2010 Masihi ~ 19 Syaaban 1431 Hijrah
3:22 P.M.