antologi.dunia: Memoir Anak Desa
Memaparkan catatan dengan label Memoir Anak Desa. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Memoir Anak Desa. Papar semua catatan

Selasa, 13 Mac 2012

[Memoir Anak Desa] Saya Anak Dua Negeri


~Peruang, Benta, negeri Mat Kilau. Bertahunan yang sudah~

Saya anak dua negeri.

Di timur, saya anak negeri perawan Walinung Sari, juga negeri beduk perang tiga pahlawan berbunyi, apatah lagi negeri bergunung-ganang dengan hutan banat. Juga negeri asalnya Seri Pahang, naga bersisik perak yang alah bertempur dengan naga Seri Kemboja di pantai negeri Siam, yang tinggal sekarang Seri Gumum di Tasik Chini memendam rasa.

Inilah Pahang, dan saya anak jati yang tumpah darahnya di sini.

Di barat, saya pula anak pengembara dari seberang samudera. Yang gemar makan pedas sebagaimana hari yang tidak lekang dek didatangi terang siang. Tinggal menetap diam di negeri Dato Maharaja Lela Tan Lela, pejuang bangsa dan agama, yang syahid digantung bersama tiga lagi pahlawan negeri. Diam di negeri ini, dua darah mengalir dalam urat pembuluh. Darah yang pernah dahulu di kemuncak dunia. Dari Tanah Jawa asalnya moyang, datang berhijrah dan berkamir darahnya dengan Tanah Melaka.

Inilah Perak, dan saya anak yang punya dua darah dalam susur diri saya.

Bak erti kata lain, saya anak Pahang, saya anak Perak, saya anak Melayu dan saya anak Jawa.

Itulah saya dan saya akan cuba sentiasa mengingati asal- usul ini.

(Entri ulang tayang semula)

Sabtu, 25 Februari 2012

[Memoir Anak Desa] Saya Anak Desa di Hujung Daerah


Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih


Adik di petang hari...

Petang ini saya melihat lagi.

Berbatas-batas tanah yang sudah digembur hampir sebulan lalu dan kacang panjang yang baru hendak berbunga menjadi saksi. Ini tempat bermain saya mengutip kata-kata untuk peri dan budi diri. Ini tempat saya bergalang untuk melangkah ke depan.

Tempat yang sudah kenal dan jenuh dengan jatuh dan luka ini bukan sebarangan tempat pada saya yang kembali berdiri hari ini.

Mengertikan kembali masa silam untuk mencakna masa depan, saya berada di sini untuk menggetis apa rasa yang ada. Di hujung daerah ini, desa yang tidak banyak diketahui orang, saya mula-mula belajar terbang untuk menggapai awan tinggi.

Di sini, bunga-bunga kacang panjang yang kecil bercitra kuning turut gembira kepalang - bahawa saya masih lagi mengingat masa yang telah berlalu.

(Entri ulang tayang semula)

Ahad, 7 November 2010

Memoir Anak Desa - Anak Muda Merantau Jauh




Bila anak muda merantau jauh,
Yang dibawa olehnya adalah semangat,
Mencari pengalaman baru,
Menimba ilmu,
Sebagai bekalan usia mendatang,
Mematangkan diri,
Untuk memejal bahu agar dapat mengalas tangunggjawab yang semakin besar,

Anak muda yang merantau,
Memegang janji bonda dan ayahanda.

Kehidupan yang kian tua
Anak muda takkan selamanya muda.


Anak desa
Dalam perjalanan jauh merantau ke tempat orang
-Lebuhraya Utara Selatan-
29 Zulkaedah 1431 - 6 Oktober 2010
4.45 A.M

Sabtu, 30 Oktober 2010

Memoir Anak Desa – Rindu Akan Boncengan Sepeda Tua



Rindu Akan Boncengan Sepeda Tua



 Sepeda tua... 



Sepeda tua, 
Tampaknya padaku mengembalikan memori indah silam,
Saat boncengan atas karia,
Dan embah yang mengayuh pedal dengan perlahan.

Bak kata Imam Ghazali,
Benda yang paling jauh adalah...
            ...masa lalu...
Takkan mampu digapai kembali dek tangan,
Walau mata darah menjadi mas hantaran,
Lalu kenangan indah itu hanya mampu ditayang kembali di atas layar hati,
Diprojektori oleh memori yang menjadi episod-episod yang betah bertahan dalam keributan minda.
Ada yang hilang, ada yang kabur, bercerai-pecah,
Namun dicuba kembali menyelongkar ke lubuk dalam , dicuba-cuba gigih mencantum kembali kepingan-kepingan kecil dan berselerak menjadi satu catan indah...
            ...apabila dikenang kembali...
            ...air mata pastikan menitis...

Sepeda tua yang menjadi sejarah,
Diingat-ingat kembali, tahunan yang amat sudah,
Boncenganku atas karianya yang lebar,
Dan embah yang cermat mengayuh dan berhati-hati,
Dengan kaki tuanya yang masih lagi kuat dan kejap,
Mengemudi hendal sepeda tua dengan tangannya yang ketuaan, terlihat urat kehidupan,
Dengan mata yang masih tajam memerhati jalan,
            Wanita besi dari tahun penjajah...
Embah tetap masih utuh...

Sepeda tua itu,
Masihku ingat dudukku atasnya karia,
Saat embah mengayuh dengan cermat,
Kupeluk pinggangnya dari belakang,
Kuletak wajah di tubuh belakang badannya...
            ...kusandar wajahku mengiring ke kanan...
Terasa masih kehangatan belakang badannya,
Yang menanggung beban sekian dulu,
            Menjadikan embah seorang yang tabah,

Aku rindu saat itu...

Saat bertembung babi hutan,
Saat termasuk semak rimbun di tepi jalan,
Saat jatuh menggelongsor ke bawah ban,
Atau mencari keladi di ladang kelapa sawit,
Embah tetap dengan cermat mengayuh sepeda tuanya,
Dan aku menjadi teman sejati di atas karia belakang,
Memegang guni atau bekalan makan ,
Memegang parang atau bungkusan plastik,
Atau memaut erat pinggangnya embah...
Pengemudian embah untuk cucunya,
Cermat dan teguh,
Walau bertembung dengan babi hutan melintas di tengah jalan,
Tidak goyah atau melatah,
Tetap utuh demi cucunya,

Sayang embah masih lagi hangat terasa...

Hari ini,
Sepeda tua itu telah menjadi sejarah,
Dan embah sudah tidak larat,
Untuk mengayuh dengan kakinya,
Sudah gontai, kakinya sudah sakit-sakit, tangannya sudah tidak lalu,
Namun embah masih lagi kuat,
Embah masih lagi embah yang lalu.

Sepeda tua...
Mungkin kini aku tidak lagi duduk di karia,
Tapi aku pula akan mengemudi hendal, memegang...
            ...dan embah pula yang akan membonceng...

Sepeda tua...
Aku rindu akan boncengan atas karianya,
Bersama embah...


Saat indah...

Anak desa

4.00 A.M.
22 Zulkaedah 1431 - 30 Oktober 2010

*sepeda-basikal
*embah-nenek